<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622</id><updated>2011-04-21T12:08:00.469-07:00</updated><title type='text'>abdi</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://madhusudanah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>41</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-114457808015301681</id><published>2006-04-09T03:07:00.000-07:00</published><updated>2006-04-09T03:21:20.996-07:00</updated><title type='text'>pojokan waktu..</title><content type='html'>Di pojokan waktu, aku akan berhenti bertanya: mengapa kau beri aku violet sekaligus gardenia. Meski aku tahu jawabnya, aku masih bertanya. Duga, hanya duga, jawabanku itu. Hanya ragu-khawatirku pada diriku sendiri. Aku tahu kau menungguku lepas dari ragu. Violet yang kau beri adalah ungkapan dari ragu yang bercokol dalam diriku. Dan gardenia itu, harapanmu padaku. Aku ragu menerima harapanmu padaku itu, maka aku terima violet yang kau beri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggalkan aku dengan violet yang kau beri. Karena violet juga bermakna duka, rasa ketika ditinggal sendiri. Biarkan aku bersama sepi dari kesendirian yang kau beri--yang telah rela kuterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dini hari ketika aku lanjutkan langkahku, selepas satu malam kita habiskan bersama. Aku akan melanjutkan dini hari hari itu, dalam kenangan langkah malam kita bersama. Melampaui hari-hari resah, timpaan bagi ragu yang bersarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kuyu atau tetap segar gardenia itu, aku tak tahu. Jika ragu tak lagi datang dan kepalan tangan kanan dalam dada ini masih berdenyut, maka berbalik aku yang menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunggu dengan pasti di satu pojokan waktu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-114457808015301681?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/114457808015301681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/114457808015301681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2006/04/pojokan-waktu.html' title='pojokan waktu..'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-114457714541082610</id><published>2006-04-09T02:43:00.000-07:00</published><updated>2006-04-09T03:05:45.443-07:00</updated><title type='text'>beda</title><content type='html'>Awal dari sesuatu merupakan akhir dari sesuatu yang lain. Jika memulai suatu hal yang baik, bukan serta merta mengakhiri yang buruk. Siapa yang dapat menyangka berakhirnya keburukan--akibat mengawali hal yang baik, berarti juga dapat mengakhiri kebaikan yang menyertai keburukan yang diakhiri? Mungkin, di situlah sintesis memperoleh arti. Benturan tesis yang berlawanan, menghasilkan perpaduan dari kondisi-kondisi yang saling berlawanan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaikan merupakan suatu hal yang dapat diterima nurani dan menguntungkan atau tidak merugikan bagi diri. Oleh karenanya, baik bagi seseorang, belum tentu baik bagi yang lain. Namun, suatu hal yang baik dapat dibentuk melalui kesepakatan. Juga tanpa kesepakatan, melalui seorang atau sekelompok yang berkuasa. keburukan yang terbiasa dan sudah menjadi kebiasaan, akan menjadi kebaikan tersendiri. Sehingga, kebaikan tidak lagi ada dalam pribadi seseorang. Tetapi sudah menjadi norma bagi setiap orang, yang mengatur dan mendisiplinkan setiap orang. Pengetahuan normatif yang menjadi pengawal-pengawas bagi setiap orang, yaitu kebaikan bagi semua--yang dapat diterima 'akal sehat' bagi setiap orang. Satu Kebaikan, satu pikiran sehat dengan bermacam kreativitas dalam koridor Kebaikan tersebut; tetap saja menjadi satu bagian pendukung Kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih baikkah Kebaikan yang demikian? Tentu baik, bagi keteraturan. Tapi, jika dilihat dari sisi keterkungkungan, inilah kelemahan dari kebaikan berpola satu. Kebaikan institusional yang tidak melekat pada diri pribadi, tapi menginterupsi dan bahkan cenderung menghalangi kebaikan pribadi. Karenanya, kebaikan-kebaikan kecil dalam pribadi terhalang-tertutup oleh Kebaikan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaikan institusional merenggut hak-hak kebaikan-kebaikan kecil dari tiap pribadi melalui institusi-institusi penjaga: psikiatri, psikologi, kedokteran, hukum dan perangkatnya, perangkat pemerintah, agama, dan sejenisnya. Kebaikan-kebaikan kecil yang tampak bertentangan dalam sikap dan pikiran, di'normal'kan melalui institusi-institusi tersebut melalui cap indoktrinatif: tidak waraas, tidak sehat, cacat hukum, mengganggu stabilitas, berideologi sesat, aliran sesat, dan semacamnya. Berbeda diberi cap demikian, tidak cukup hanya dilabelkan: BERBEDA.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-114457714541082610?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/114457714541082610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/114457714541082610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2006/04/beda.html' title='beda'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-114294317305631763</id><published>2006-03-21T04:10:00.000-08:00</published><updated>2006-03-21T04:12:53.070-08:00</updated><title type='text'>rokok dua puluh batang</title><content type='html'>Hanya untuk mengenang, aku isap asap dari rokok yang juga kau isap. Rokok ini mendadak menjadi dupa persembahan, ketika aku sadar kau telah menjadi segunduk tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membelinya dari warung sempit, tetangga sebelah. Sebab kunjunganmu yang selalu sayup dalam mimpi. Duka yang hadir bertahun lalu, hadir lagi seketika bangun dari mimpi. Seketika pula rindu terpuaskan. Aku takjub pada mimpi yang membawamu hadir. Hanya karenanya aku dapat merasakan perasaan yang berlawanan pada satu waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin kukata, rokok ini memperpanjang kedua rasa itu menjadi satu. Meski darinya, dari asapnya, hanya dapat memperkental dahak di tenggorokan. Asapnya buat mata pedih, buat mata jadi lebih berair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rokok ini menjadi medium pengganti, kehadiranmu. dua puluh batang dalam satu bungkus, dua puluh dupa persembahan terbakar untuk mengenang. Bermenit-menit candu, alasan bagi malas dari produktivitas pikiran. Membiarkan lena merasuk dalam pikiran yang lara oleh kenangan. Kenangan atas kehidupan yang mati. Kematian yang hidup, yang sempat tinggal bertahun-tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, untuk mengenang kematian yang hidup itu, hanya tertinggal medium pengganti, rokok dua puluh batang. Dengan asapnya yang timbulkan bayang-bayang, dengan rasanya yang timbulkan kenangan, dengan baunya yang timbulkan rasa lalu: kesal dan rindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesal dan rindu yang merupakan manifestasi dari sayang-cinta. Aku cinta, namun kenangan mengantarku untuk membencimu. Aku rentan karena cintaku padamu, aku keras-kasar karena benciku padamu. Aku bisu, karena raguku untuk memilih antara keduanya. Aku bisu, karena sadar bahwa aku telah rentan, keras dan kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian yang hidup itu akan mati. Mati, mati terhunus yang nyata. Mati terbunuh pencarian hidup, pencarian penghidupan. Mati tertebas rencana-rencana ganas dari lapar diri dan orang lain, lapar fisik-lapar batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang lapar, tak lagi bisu kubuat. Tangan ini butuh menggores, pikir ini butuh bergetar, mulut ini butuh melantang. Kaki ini butuh mengayuh, kayuhi kerikil duri hidup: manusia--yang juga lapar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timbul watak keras-kasarku, aku sadar dan kembali menjadi bisu. Bisu makin meradang, rahang menjadi beku. Beku, beku yang terus meng-inkubasi tubuh sampai menjadi mayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata aku mati karena rentanku, yang menjadi muka ganda dari keras-kasarku. Kerentanan yang sama, yang masih bercokol akibat moralitas bernama cinta-kasih-sayang. Sehingga tak kulihat bedanya, dengan benci itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya bisu yang ada, juga kematian yang tidak lagi kukenang lewat rokok dua puluh batang. Kematian sudah jadi bagian dari diri. Kebisuan dan kematian sudah selayaknya menjadi satu. Aku bisu-mati, mati-bisu. Layak untuk juga disebut sebagai materi tak bernyawa atau angan-angan yang hanya nampak dalam pikiran. Sehingga, aku menjadi sadar bahwa aku ada dalam keadaanku yang tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai kau, yang telah menjadi segunduk tanah, kini kita satu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-114294317305631763?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/114294317305631763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/114294317305631763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2006/03/rokok-dua-puluh-batang.html' title='rokok dua puluh batang'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-113760214094423102</id><published>2006-01-18T08:34:00.000-08:00</published><updated>2006-01-18T08:35:40.956-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>"Menjadi, menjadi, menjadi,..., menjadi,..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Repot dengan satu kata. Mendingan buang kata itu ke tong sampah yang paling bau, jorok, berlendir, dan tempat beternaknya belatung-brongocorak-tikus dan kawan-kawannya. Lalu melihat 'Menjadi' bermain-hidup dalam lingkungan barunya, 'Menjadi' akan bisa berbuat apa. Berbuat 'Menjadi'?!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-113760214094423102?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/113760214094423102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/113760214094423102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2006/01/menjadi-menjadi-menjadi.html' title=''/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-113353834577522257</id><published>2005-12-02T07:43:00.000-08:00</published><updated>2005-12-02T08:08:29.033-08:00</updated><title type='text'>senja malam</title><content type='html'>Melihat senja datang dan cepat berlalu tergantikan malam, aku gentar dan menjadi takut. Karena malam melindungi keburukan manusia dan menjadikan ruang bagi kebaikan untuk beristirahat. Karena malam merupakan saat direncanakannya perubahan yang drastis. Oleh karenanya, sintesis dari gelapnya malam, adalah perubahan yang teriringi keburukan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari baiknya niat perubahan. Malam memberikan ruang bagi manifestasi dari kebohongan dan kejujuran alam bawah sadar yang menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indahnya jingga kala senja dan bintang-rembulan dalam selimut malam, merupakan insentif bagi kengerian yang ditimbulkan manusia. Semesta alam menyaksikan itu. Adapun mereka yang diliputi kasih-sayang pada malam hari, mereka adalah bagian dari semesta alam itu. Manusia yang berkasih-sayang saat malam, mereka mencoba melepaskan diri dari keburukan dirinya. Semesta alam, termasuk manusia penuh kasih-sayang, melepas diri dari kegetiran. Karenanya, aku tak sepakat lagi dengannya. Yang kuingin, kebaikan meraja menjadi kebaikan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menginginkan perubahan, karena itu aku menjadi gentar dan takut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-113353834577522257?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/113353834577522257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/113353834577522257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/12/senja-malam.html' title='senja malam'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-113353815750114336</id><published>2005-12-02T07:39:00.000-08:00</published><updated>2005-12-02T07:42:37.523-08:00</updated><title type='text'>kata-kata</title><content type='html'>Berucap apa aku tak tahu. Bahkan setiap ucapan yang akan kuucap aku tak tahu. Paralipsis akan selalu menghantui dalam setiap ujar yang akan kuucap. Ucapan, ujaran selalu kata-kata. Bukanlah lidah pedangnya, tetapi kata-kata. Mereka menjadi momok bagi setiap representasi diri. Melalui ucapan, semua tersampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan-akan merekalah diri itu sendiri. Mereka menguasai, bahkan menguasai pengucap-pengujar. Matilah kata-kata! Matilah!matilah kau dalam bisu yang juga kata-kata. Aku ingin menjadi orang yang tak pernah mengenal kata-kata, sama halnya dengan keinginanku untuk menguasai kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua sekedar keinginan, sebab kutahu keduanya tidaklah mungkin. Yang kutahu adalah ketidaktahuanku akan kesadaran bahwa aku terkuasai oleh kata-kata. Mereka menjelma dalam setiap tindak. Bahkan bisu sekalipun, meski tanpa ujar, bisu berkata. Sebab kebisuan juga merupakan tanda-simbol, layaknya kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kutahu, adalah ketidaktahuanku akan simbol-tanda. Sehingga kembali aku dipaksa untuk melihat-mengamati-mengartikan simbol-tanda, seperti aku membaca-mengujarkan kata-kata. Kembali aku terkungkung dalam keterpaksaan, terkuasai kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya. Aku mencari. Aku menjawab. Kata. Kata. Kata…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-113353815750114336?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/113353815750114336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/113353815750114336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/12/kata-kata.html' title='kata-kata'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-113284245283452776</id><published>2005-11-24T06:23:00.000-08:00</published><updated>2005-11-24T06:27:32.850-08:00</updated><title type='text'>apa lacur...</title><content type='html'>Dua lima tiga sembilan...! suara pengeras suara dari seorang yang memanggil giliran antrian. Dua lima tiga sembilan!! Suara itu diulang kembali dengan nada yang lebih tinggi dan berintensitas lebih keras daripada sebelumnya hingga membuat sebagian orang terjaga dari kesibukannya, melamun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya... orang yang memanggil itu sudah terlampau bosan ditunggu, hingga melebihi kesalnya orang yang menunggu. Padahal aku, bagian dari mereka yang menunggu, sudah mulai muak dengan apaknya kertas bernomor yang entah sudah berapa banyak dan dari berapa jenis pemegang. Juga mulai kesal dengan panas, sesak, bau minyak angin yang bercampur dengan wangur khas rumah sakit umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang mengambil nomor antrian dan mengisi daftar untuk keperluan administrasi dan keperluan biaya administrasi, tentunya. Mereka sama denganku, sama-sama mengeluhkan rasa yang menimpa diri mereka kepada orang lain yang padahal juga berasa, yang disebut dokter. Hah... dokter! Semakin tak percaya aku pada profesi satu ini, yang dari mereka, timbulkan rasa lain selain rasa sakit. Rasa khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat tertawa juga dengan pikiranku, karena sungguh kasihan mereka yang menjadi dokter. Setiap hari didatangi, diberi keluhan yang mungkin sama sesuai dengan spesialisasinya, memberi resep sesuai pesanan produk farmasi, merasakan setiap hari apaknya rumah sakit umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat itu... aku tak jadi membenci profesi itu. Malah mengasihani profesi itu, yang orang yang berprofesi sebagai dokter seakan bangga dengan profesinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikirku... apa juga sama dengan profesi yang lain? Profesi-profesi yang selalu menghendaki hal-segala hal tindakan yang sama setiap waktu dengan prilaku yang sama, mekanisme yang sama, aturan yang sama, pola struktur yang sama,... ya... semua-muanya sama. Bahkan sampai hiburan sekalipun selalu melakukan hiburan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesin yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah...!!! Apa lacur, toh manusia mencipta mesin dengan menirukan bagian dirinya, otaknya. Tapi.... kalau sekarang siapa yang ditiru?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-113284245283452776?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/113284245283452776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/113284245283452776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/11/apa-lacur.html' title='apa lacur...'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-112835320467233403</id><published>2005-10-03T08:25:00.000-07:00</published><updated>2005-10-03T08:26:44.683-07:00</updated><title type='text'>aku tunggu</title><content type='html'>aku tunggu seorang yang&lt;br /&gt;bisa menikmati puisi, berdua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tunggu seorang yang&lt;br /&gt;bisa menikmati laksana&lt;br /&gt;puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tunggu seorang yang&lt;br /&gt;hidupnya adalah&lt;br /&gt;puisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bak lukisan surealis&lt;br /&gt;semua timbul dari genggaman&lt;br /&gt;bawah sadar&lt;br /&gt;sehingga ku tahu&lt;br /&gt;dan tak lagi aku&lt;br /&gt;menunggu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-112835320467233403?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/112835320467233403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/112835320467233403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/10/aku-tunggu.html' title='aku tunggu'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-112799632083239818</id><published>2005-09-29T05:17:00.000-07:00</published><updated>2005-10-15T12:08:16.560-07:00</updated><title type='text'>seseorang bertanya...</title><content type='html'>seseorang bertanya padaku: adakah suatu hal yang dapat dibanggakan dari kehidupan ini?&lt;br /&gt;aku tak berani menjawab, bahkan tak tahu, lebih tepatnya. karena aku mempertanyakan hal yang sama pada diriku. hal yang dirasakannya adalah hal yang sama seperti yang aku rasakan. aku seperti sedang becermin. aku adalah dia, dalam hal ini. sebab, pertanyaan kami sama, juga rasa yang kami rasa, kukira. pertanyaan dan rasa, yang bisa dijadikan alasan untuk mengakhiri tubuh wadag ini agar kembali ruh ke Tangan Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sambil menghela napas, aku berpikir. pelindung tubuh ini hanyalah kulit dan hanya dengan beberapa gumpalan sel yang berdenyut saja, manusia bisa dikatakan hidup. mengapa tidak segera manusia itu hancur dengan sendirinya jika dirasakan sesuatu yang begitu berat? mengapa hanya pingsanlah, pertahanan manusia terakhir ketika ia tak kuat menahan sesuatu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku teringat pada sebuah mitos Yunani, mitos Sisifus, kalau tak salah ingat. ia adalah seseorang yang tak pernah mau menyerah untuk mendorong sebuah batu bundar yang besarnya melebihi tubuhnya, ia mendorong batu tersebut agar sampai ke puncak sebuah gunung. tapi ketika di tengah gunung batu itu menggelinding lagi ke bawah. sampai di bawah, dia mendorong lagi batu itu agar sampai ke puncak. lalu menggelinding lagi, dan seterusnya berulang kali tanpa henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah mitos itu merupakan sebuah penggambaran dari kehidupan ini? apakah tidak merasa lelah? apakah usaha yang tak berpengharapan akan mencapai hasilnya? ataukah justru karena pengharapan yang besar itu yang menutupi ketidakmungkinan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak kukira aku akan berhenti pada pesimisme, bahwa yang aku lihat tidak lagi bermacam warna. tapi, hanya hitam dan putih hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;layaknya seorang yang buta warna keseluruhan, inginnya aku (kembali) melihat warna-warni itu. aku ingin melihat pengharapan yang nyata di kehidupanku, agar ada sesuatu yang dapat dibanggakan. bukan pengharapan yang menutupi kemustahilan. tapi pengharapan yang justru dapat menunjukkan kemustahilan dan keniscayaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-112799632083239818?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/112799632083239818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/112799632083239818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/09/seseorang-bertanya.html' title='seseorang bertanya...'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-112610010804694115</id><published>2005-09-07T06:33:00.000-07:00</published><updated>2005-09-07T06:35:08.053-07:00</updated><title type='text'>kabut</title><content type='html'>Gelapnya kabut menimbulkan kesegaran. Begitu juga cinta, yang timbulkan sakit; sakit karena rindu dan pengungkapan. Menahan sakit rindu hingga meradang, memperdalam rasa cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Sang Pencipta menguji kekasihNya dengan rasa cinta yang mengakibatkan kerinduan. Bagi mereka yang berpaling dari sakit rindu, mereka gagal menemui kekasihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rindu memberi akibat kesabaran, membuat tahan dalam dunia yang mengalir. Rindu menggiring dan mengiringi terkasih untuk bertemu Kekasihnya. Dalam rindu, sakitnya teramat sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersayat-sayat lading kangen, tubuh hanya menjadi wahana. Berani menjadi nekad, akal menjadi terbatas oleh keluasan cinta. Rasa lain yang terhampar, sirna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh terkasih, mengapa Engkau buat diriku menjadi segunduk penderitaan dalam sakit yang tak tertahankan ini? Aku menjadi rapuh, rentan, tua karena kangen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;“Berharaplah, sebab harapan yang akan menjagamu tetap hidup.”&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-112610010804694115?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/112610010804694115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/112610010804694115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/09/kabut.html' title='kabut'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-112595847253897017</id><published>2005-09-05T15:14:00.000-07:00</published><updated>2005-09-05T15:14:32.536-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Sejengkal kita,&lt;br /&gt;pun masih disebut jarak&lt;br /&gt;aku tak bilang bahwa aku akan meninggalkanmu&lt;br /&gt;dan aku pun tak berusaha untuk maksud itu&lt;br /&gt;butuh waktu lama untuk menuliskan kata per kata,&lt;br /&gt;saat ini&lt;br /&gt;karena hati tak ingin berucap&lt;br /&gt;pikiran pun tidak, bisu&lt;br /&gt;karena mereka hanya bisa diam setuju&lt;br /&gt;untuk melihat bayangmu&lt;br /&gt;yang entah berapa lama tak lagi mampir&lt;br /&gt;di pelupuk mata&lt;br /&gt;Hati,&lt;br /&gt;sungguh takjub aku kepada ciptaan Tuhan yang satu ini&lt;br /&gt;yang di dalamnya bercampur segala&lt;br /&gt;tak pernah kutinggalkan ia ataupun kutanggalkan ia&lt;br /&gt;ia tertanam dalam diriku, hingga mulia aku&lt;br /&gt;ia cermin bagiku dan jendela dalam mengenalmu&lt;br /&gt;karena terpaut sudah dirimu dalam hatiku&lt;br /&gt;Sayang...&lt;br /&gt;jika boleh dan tak tabu bagimu untuk aku mengucapkan itu&lt;br /&gt;inginku, aku alirkan semua kata-kata baik mengenai&lt;br /&gt;rasaku padamu&lt;br /&gt;tapi, rasaku mengetahui bahwa kau mengenal aku dengan baik&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-112595847253897017?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/112595847253897017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/112595847253897017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/09/sejengkal-kita-pun-masih-disebut-jarak.html' title=''/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-112595840537916469</id><published>2005-09-05T15:08:00.000-07:00</published><updated>2005-09-05T15:13:25.400-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Termenung...&lt;br /&gt;selalu itu yang dikerjakan&lt;br /&gt;di saat diam dan bisu&lt;br /&gt;dari keinginan hati, Sayang!&lt;br /&gt;Padahal... &lt;br /&gt;jiwaku telanjang&lt;br /&gt;memohon, bersujud pada Yang Sang&lt;br /&gt;untuk kembali ke pangkuan dinda&lt;br /&gt;Sayang...&lt;br /&gt;Akuilah dosaku&lt;br /&gt;dari semua kultus berdebu&lt;br /&gt;kubangun dari setiap batu&lt;br /&gt;kuukir dengan mata layu &lt;br /&gt;apakah doaku... &lt;br /&gt;kuucapkan dari setiap wudlu&lt;br /&gt;Tuhanku...?!&lt;br /&gt;aku tak mampu hidup &lt;br /&gt;jika Engkau ada&lt;br /&gt;rayu dari setiap firmanMu&lt;br /&gt;tak pernah kuragu&lt;br /&gt; “Bukalah hatiku!“&lt;br /&gt; “Kuingin bersamanya.“&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-112595840537916469?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/112595840537916469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/112595840537916469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/09/termenung.html' title=''/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111945625214041345</id><published>2005-06-22T09:02:00.000-07:00</published><updated>2005-06-22T09:06:34.426-07:00</updated><title type='text'>luka</title><content type='html'>(Pada suatu senja, di mana merahnya mentari menjadi lebih pekat oleh merahnya darah manusia.)&lt;br /&gt;Kerja bagus, wahai Manusia! Engkau telah memenuhi kehendakku, kehendak hasrat alamiah manusia. Dengan aliran darah ini, engkau telah menjadi manusia yang sebenar-benarnya, yaitu yang mengerti akan kebutuhanmu, kepentinganmu dan kesenanganmu. Maka, tetap singsingkan lengan bajumu untuk kebaikanmu dengan cara-cara yang tidak cengeng-tidak lemah. Karena dalam setiap pribadi manusia ada benih-benih diriku. Benih-benih hasrat kekerasan. Tumbuhkanlah-kembangkanlah benih-benih yang telah tersebar di dalam dirimu, karena itu adalah alat untuk mencapai kepentingan-kebutuhan-kesenanganmu. Karena tidak dengan berbicara-berdiplomasi, segala hal bisa baik dengan segera.&lt;br /&gt;Kau telah membuatku tampak lebih cantik dengan bahasamu, “pemenuhan hak”. Sehingga aku tak perlu susah payah membisiki-memanasi ragamu, pikiranmu. Karena ruang yang engkau butuhkan untuk ragamu, sudah cukup untuk dijadikan alasan bagiku agar tetap ada. Pemenuhanmu akan ruang untuk ditempati, diberi arti dan dimanfaatkan sudah cukup untuk membuatku ada.&lt;br /&gt;Pembatasan pun tak membatasi diriku, malah justru menjadi pengesahan. Sebutlah hukum gantung-tembak mati, rajam, aneksasi, &lt;em&gt;humanitarian “war” intervention&lt;/em&gt;. Mereka semua berhasratkan aku. Bahkan agama sekalipun, adalah pengesahan atas diriku. Karena mereka mebela hak atas keberadaan mereka, keberadaan hukum Tuhan dan Tuhan itu sendiri—dalih mereka.&lt;br /&gt;Wahai manusia, terimalah aku, karena aku sudah menjadi bagian dari dirimu, di otakmu, di tanganmu, di hatimu, di perutmu dan terlebih lagi di birahimu. Karena itu aku akan tetap ada dalam bentuk dendam-balas dendam, benci, kecewa, perzinahan, pemerkosaan, pembunuhan, pembantaian. Bahkan dalam bahasamu yang lebih canggih: dominasi dan eksploitasi.&lt;br /&gt;Bersetubuhlah denganku, wahai Kedamaian! Janganlah menjadi naif-munafik dengan mempercayai manusia. Mari kita nikmati bersama getirnya kecurigaan, kewaspadaan, kegelisahan dalam dirimu. Karena engkau adalah bentukan dari manusia, yang adalah aku. Selama manusia ada, aku akan tetap ada berupa hasrat untuk menguasai, meski dalam dirimu, wahai Kedamaian! Maka dari itu bersetubuhlah denganku. Aku akan merenggut dirimu ke dalam diriku.&lt;br /&gt;Teruskan benih alamiah ini, wahai Manusia! Tumbuhkanlah ketidakpercayaan menjadi kebencian yang menjadi bara amarah dan luapkanlah dengan menebaskan parang pada bagian tubuh manusia lain, yang adalah musuhmu! Patuhilah hukum evolusi yang telah kau buat sendiri—&lt;em&gt;survival for the fittest, struggle for power, struggle for life&lt;/em&gt;! Singkirkan kelemahan dan singkirkan yang lemah! Tumbuhkan benih yang ada dalam tiap diri manusia dalam ras, agama, kelompok, jalinan keluarga, dan lebih hebat lagi negara! Kita akan bertemu di setiap aliran darah manusia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111945625214041345?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111945625214041345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111945625214041345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/06/luka_22.html' title='luka'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111916122282331905</id><published>2005-06-18T22:58:00.000-07:00</published><updated>2005-06-18T23:07:02.826-07:00</updated><title type='text'>Luka...</title><content type='html'>Setiap yang dilahirkan, mengawali masa dengan rasa sakit. Setiap ibu, melahirkan manusia baru melalui rasa sakit. Bersimbah darah, penuh pengorbanan. Tapi mengapa pengorbanan itu dilakukan? Mengapa sakit itu dirasa sebagai awal dari masa? Mengapa jerit tangis adalah awal dari berbahasa? Dan mengapa, lalu jerit tangis itu disambut oleh cucuran keringat dan air mata bahagia dari seorang ibu yang seakan lupa akan rasa sakitnya ketika melahirkan? Mengapa?...&lt;br /&gt;Apakah Sang Pencipta menjadikan takdir bagi kita bahwa manusia adalah makhluk yang senantiasa berkorban dengan darah ataukah ini adalah pelajaran bagi manusia agar kita jera akan rasa sakit sehingga tak seharusnya kita menyakiti sesama?&lt;br /&gt;Oh Tuhan… pertanda apakah yang ingin Engkau sampaikan pada manusia mengenai perihal sakitnya kelahiran ini?&lt;br /&gt;Mengapa masih, manusia saling tuduh, saling berburuk sangka, saling menyakiti, saling berusaha untuk membunuh dan melihat darah sesamanya?&lt;br /&gt;Apakah tidak akan pernah puas, bagi manusia, sebelum tangannya berlumuran darah saudaranya sendiri—sesama manusia? Tidak akan pernah cukupkah dunia ini sebelum ada pertengkaran dan bau amis darah manusia?&lt;br /&gt;Apakah semua kelahiran harus didahului dengan rasa sakit? Apakah lahirnya peradaban harus didahului dengan sesuatu yang tidak beradab?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111916122282331905?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111916122282331905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111916122282331905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/06/luka.html' title='Luka...'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111418883838812182</id><published>2005-04-22T09:52:00.000-07:00</published><updated>2005-04-22T09:53:58.390-07:00</updated><title type='text'>sendiri</title><content type='html'>menulis dalam gelap&lt;br /&gt;bersanding sebuah Bhagawad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terangi kami luna&lt;br /&gt;terangi  silhouette hijau&lt;br /&gt;dengan cahya kuningmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menari kami rembulan&lt;br /&gt;menari dengan pena&lt;br /&gt;ujung tinta yang mengalir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menulis dalam gelap&lt;br /&gt;yang melek pun tak fungsi&lt;br /&gt;hanya siulan membuat peka&lt;br /&gt;pekak . . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;sepi membunuh dirinya pula&lt;br /&gt;sewaktu ngantuk ngungun&lt;br /&gt;di hadapan tercantik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hasrat memantik pikir bertemu,&lt;br /&gt;inikah rindu?&lt;br /&gt;yang selalu menganga mengalirkan liurnya&lt;br /&gt;untuk dijilat, dihisap kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(nikmatnya. . .)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;meski terbuang, tertinggal sudah&lt;br /&gt;tercantik, engkau lekat pekat&lt;br /&gt;hingga tak lagi sunyi, sepi langka&lt;br /&gt;mendengar tangis mengada&lt;br /&gt;senyum lentik  merajut, membalut&lt;br /&gt;pamrih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;kupuja dirimu ketika kucaci dirimu&lt;br /&gt;biarkan sepi ini melara, menepis bahagia&lt;br /&gt;hilangkan dahaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kupuji dirimu ketika kucaci dirimu&lt;br /&gt;meski gila, kau sebut. biarkan endorfin&lt;br /&gt;ini membuka katupnya di remang senja&lt;br /&gt;hingga peduli pun tak, dengung akbar pun&lt;br /&gt;sirna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kupuja dirimu masih kucaci dirimu&lt;br /&gt;sampai biru senja, hitam&lt;br /&gt;atau mungkin sampai sepi tak pernah melara&lt;br /&gt;hingga tak lagi kupuja&lt;br /&gt;kucaci kucaci&lt;br /&gt;ku(r)caci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;begitu saja teriak-teriak tanpa makna, meledak&lt;br /&gt;begitu saja kaca-kaleng kelang dihempas&lt;br /&gt;tangan&lt;br /&gt;merajam takut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah pemabuk menziarahi kunang-kunang kenangan di pekuburan&lt;br /&gt;ingatan&lt;br /&gt;diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dingin tak punya indera untuk dirasa&lt;br /&gt;panas merasuk dari lapen yang tak kunjung habis dalam gelas&lt;br /&gt;hingga menyaingi toa yang menderu dari langit&lt;br /&gt;langit sengau sebuah tajug&lt;br /&gt;lalu pupus saat matari menyambung panas&lt;br /&gt;dengan hangat, dan caya  menampakkan&lt;br /&gt;serak-serakan mayat&lt;br /&gt;tubuh menggeletak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;air kedamaian,&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111418883838812182?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111418883838812182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111418883838812182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/sendiri.html' title='sendiri'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111418811379198350</id><published>2005-04-22T09:41:00.000-07:00</published><updated>2005-04-22T09:41:53.793-07:00</updated><title type='text'>penilaian</title><content type='html'>Adanya harapan dalam diriku semakin membuatku membenci penimbul harapan. Membenci, biarkan kata yang tajam ini menusuk semakin dalam, pada hati—yang mungkin terisi dengan parameter baik-buruk, benar-salah. Biarkan parameter itu terhapus. Agar tidak, aku menilai sesuatu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persetan dengan penilaian! Menilai baik-buruk, benar-salah membuatku terhempas dalam pembendaan sesuatu hal. Manusia tidak menjadi manusia; tapi menjadi benda, obyek, subyek, client, atau apapun sebutannya. Dehumanisasi dilakukan. Penamaan adalah awal dari penguasaan. Penguasaan terhadap sesuatu yang diberi nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penilaian manusia terhadap  manusia lain, menandakan begitu dalam materialisme ter-absorbsi dalam diri manusia. Manusia, yang mengaku rasional itu, teperdaya-terkuasai oleh parameter bentukan dirinya sendiri. Sehingga, tidak lagi meng-emansipasi diri manusia. Adakah lagi, rasionalitas dalam manusia pemberi nilai melalui penegakan norma?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama status quo penilaian ada, emansipasi manusia hanyalah berawal dan berakhir pada asumsi  yang teleologis sifatnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111418811379198350?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111418811379198350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111418811379198350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/penilaian.html' title='penilaian'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111418761909506909</id><published>2005-04-22T09:32:00.001-07:00</published><updated>2005-04-22T09:46:40.390-07:00</updated><title type='text'>melayat. . .</title><content type='html'>inikah masjid itu?&lt;br /&gt;yang dulu kuantar kau&lt;br /&gt;yang kutunggu kau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;manis kulihat&lt;br /&gt;kacanya hijau dominan&lt;br /&gt;sujudmu berbayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi bringin menyesakku&lt;br /&gt;dengan akar-akar napas gantungnya&lt;br /&gt;yang ada di pelataran&lt;br /&gt;juga persembahanku itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini terang, terang imitasi&lt;br /&gt;bukan matahari yang membasahi&lt;br /&gt;gedung-gedung mati&lt;br /&gt;meski menjulang tinggi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MELAYAT . . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Raga ini nampaknya mudah sekali bercengkrama dengan kesejukan. Bukan tak percaya kepadanya, hanya saja khawatirku. . . jika ia kelewat akrab hingga tak lagi bisa membedakan sejuk yang lain.&lt;br /&gt;O. . . Raga, ku tahu denyutmu-detakmu hanya sementara. Kau pernah memperingatkanku akan hal itu. Kau coba jugakah, kini? Peringatkan aku lagi?&lt;br /&gt;Atau tak lagi kau ingin melanjutkan karmamu dan tuntas dalam kerak bumi?&lt;br /&gt;Raga, juga belum ku tahu sejuk yang lain itu datang. Atau justru kau mengetahuinya?&lt;br /&gt;Raga, jika Rela mengajakmu. Ajak pula aku. Kenalkan aku, kenalkan aku. Sandangi aku dengannya.&lt;br /&gt;Tidak memaklumi, tapi Rela.&lt;br /&gt;Raga, bawa aku padanya sebelum kerak bumi merendammu, O. . . Raga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Siang ini, kantuk, temanku datang. Berkata dengan bahasanya, “Rehatlah tubuh mungil!” Seperti mantra-mantra, kata-kata itu menina-bobokanku. Kuasaku hampa. Kedap-kedip mengangguk, orang-orang melirik.&lt;br /&gt;Ha-ha.. rasakan, Kawan! Malu datang membantahmu. Aku tahu paracetamol yang mengundangmu hadir. Sebab semalam dan pagi tadi, udara dan tubuhku tak jua sepakat dalam satu suhu. Beum lagi otak kiriku yang direpresi-ditekan oleh khayalan-khayalan buntu, hingga kambuhlah migrenku.&lt;br /&gt;Ah, Kawan! Kau sudah cukup membuatku lemas siang ini. Mau kau tambahkan pula malas. Sedang keringat dingin pun belum tuntas kau hasilkan, terus membuat emberku penuh. Asem!&lt;br /&gt;Coba lihat, di GSP ini, sungguh ‛jarang’ yang segar-segar lewat. Sengaja kuajak kau, agar naluri itu membantu Malu—kawanku—untuk membantahmu.&lt;br /&gt;Ha-ha.. bajingan ini ternyata berhasil!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;hitam sudah aku, hitam jua yang kau beri&lt;br /&gt;kelam sudah aku, kelam jua yang kau beri&lt;br /&gt;jugakah jika putih sudah aku, putih jua yang kau beri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaya, kau pemberi? Adil, kau bijak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;ingatkah ketika. . .&lt;br /&gt;ceritaku tentang kursi rapuh yang menjatuhkan si lumpuh?&lt;br /&gt;yang darinya si lumpuh hanya bisa bertahan, yang bukan berdiri&lt;br /&gt;menggeletak pada sisa-sisa kursi rapuh&lt;br /&gt;ditemani bantal lepek yang tertimbun dinginnya lantai&lt;br /&gt;yang selimutnya hilang sebelum sempat ia kenakan&lt;br /&gt;karena tertiup angin lalu yang lampau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatkah? Semakin goyah temboknya, hampir tertindih ia. Patahan kursinya tajam, hampir mati ia. Riuh dirinya keras, hampir bisu ia. Deru anginnya kencang, hampir tuli ia. Mati sajakah ia?&lt;br /&gt;Ingatkah ia?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111418761909506909?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111418761909506909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111418761909506909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/melayat.html' title='melayat. . .'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111418613889495130</id><published>2005-04-22T09:07:00.000-07:00</published><updated>2005-04-22T09:08:58.896-07:00</updated><title type='text'>dosa. . .</title><content type='html'>Kiranya, tak lagi aku akan memaki. Sebab makian sudah menjadi bagian tak terpisahkan pada setiap orang yang mempunyai mimik. Biarkan mimik mereka yang memaki diri sendiri. Cantik-jelek, buruk-bagus, benar-salah; aku tak peduli.... Semua terlahir dengan membawa dosa yang sama, dosa tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, aku tidak akan tinggal diam jika orang lain turut dirugikan akibat kutukan dosa seseorang. Aku akan membalikkan mimik orang itu, sampai sadar diri ia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang pertama yang akan kuhancurkan adalah diri sendiri. Biar putus urat syaraf ini, hingga tak punya daya. Biar nyali saja yang berbicara. Seberapa besar keras-kasar nyali, akan kugunakan. Agar kematian cepat  menjemput. Agar diri menjadi subhat-fasik-makruh-haram, menurut pandangan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amarah menjadi kunci pemecah. Hingga dosa tanggung jawab yang kuemban terbakar bara yang muncul dari diri. Tangan ini tak lagi menjadi dingin, karena teralirkan darah hangat dari jantung. Biar tangan ini membentuk stigmata bagi dirinya sendiri. Agar pasrah, diri ini, pada duri yang terkait di pergelangan. Duri dari embanan dosa tanggung jawab. Sehingga tanggung jawab tidak lagi menyakitkan, karena durinya telah kupakai dan aku menjadi terbiasa memakainya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111418613889495130?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111418613889495130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111418613889495130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/dosa.html' title='dosa. . .'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111418597579108847</id><published>2005-04-22T09:04:00.000-07:00</published><updated>2005-04-22T09:06:15.793-07:00</updated><title type='text'>Absurditas</title><content type='html'>Disertai santun kumenuliskan ini padamu, meski tak lagi kita bersua, tak lagi juga kita sering berkata-kata. Sejuk di sini, memaksa ego untuk menghangatkan diri, mungkin sedikit pengaruhnya, dingin itu. Bahkan mungkin tak terasa, karena ego itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari muntah mengeluarkan permasalahannya, membuat penataan menjadi kacau. Bahkan kekacauan itu semakin lama menjadi tata baru. Tata kacau, namanya. Beberapa tak saling bersinggungan, meskipun nampak bersinggungan, itu hanya membentuk semacam asimtot. Berbelok-belok-terjal-landai, mungkin teori  geometri Euclidean tak pantas diterapkan pada dunia serba non-Euclidean. Masih ada saja yang mencoba untuk menerapkannya. Siapa? Aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit menepisnya dengan helaan napas, mencoba sadarkan diri. Menulis kecil-kecil, meracau melalui tulisan itu. Membuat kotak-kotak yang sama sekali tak berarti. Seakan-akan hidup itu sesederhana kotak-kotak yang kubuat—yang disertai simbol-simbol penghubung di antaranya. Lalu aku terperosok karena dengan mengkotak-kotakkan, aku  terkotak-kotakkan. Penyederhanaan tak semudah term-nya, tapi justru  serumit hal kecil yang dibesar-besarkan. Rumit, karena diri terlibat di dalamnya tanpa disertai kesadaran pada diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilang yang disebut dengan mekanisme, hilang pula sistematika, tak ada metodologi. Pupus-larut ditelan masalah yang isinya adalah absurditas. Juga aku, yang turut berusaha menyelesaikan, turut menjadi absurd. Tataran ego, ide dan hegemoni merasuk melalui bahasa verbal, tidak melalui angka obyektif—yang fokus pada dirinya. Tapi kata-kata dirakit melampaui emosi yang ada, menjadi satu bentuk kepastian yang setiap orang bebas menginterpretasikannya. Interpretasi, satu hal yang adalah satu-satunya kepastian yang terbentuk, tergantung kepada si penerima, menggunakan perasaan atau akal/rasio yang bermain di dalam interpretasi itu. Jadi, subyektifitaslah yang ada. Multi-interpretasi inilah yang menjadikannya absurd, tak ada yang dapat dijadikan patokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya adalah ‛hutan belantara buatan’ yang harus dijelajahi dan terkadang harus juga ditebas atau sekaligus dimanfaatkan dalam satu waktu. Dalam belantara buatan ini, setiap tangan bisa dan memang bebas meracik ramuannya masing-masing. Belantara buatan ini adalah laboratorium pribadi bagi masing-masing. Laboratorium dunia ide, konsep dan kuasa bagi setiap yang bermain di dalamnya. Licik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi satu entitas sendiri yang terlepas dari tatanan apapun. Di sinilah muncul yang dinamakan keterasingan pada diriku. Seakan aku ini makhluk yang  transendental, tidak terbatasi ruang dan waktu—tidak mempedulikan bahwa aku adalah makhluk biologis yang membutuhkan makan pada sel-sel yang menyusunku. Mengawang-awang, tanpa patokan. Inilah titik di mana keimanan  menjadi hampa, sebab percaya tak ada. Yakin menjadi hipotesa, maka otomatis iman tiada. Jika seperti itu, apakah termasuk nihiliskah aku? Beranggapan bahwa Tuhan merupakan sebuah konsep yang mengisi ide tiap individu yang sangatlah dominan perannya sebagai penentu pada diri manusia yang authoritative-hegemonic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semacam coca yang membuat ketergantungan bagi individu yang merana-melara. Tak mau tak, kultur-nilai-norma yang terlembagakan pun diterima sebagai jalan penentu hidup. Kepasrahan membuka pintu bagi internalisasi  sistem lain selain diri. Padanya aku sadar. Lalu tanya muncul sebagai pembelaan dari ketergantungan: Apakah aku bisa lepas dan teratur jika tanpa sistem yang ada sekarang?&lt;br /&gt;Aliran darahku seakan berhenti, tertohok satu kalimat pleidoi. Belantara yang multi-interpretatif pun tak lepas dari dominasi pihak yang berkuasa. Bahkan multi-interpretasi pun masih terpengaruh olehnya dalam pembentukan interpretasi itu  sendiri. Semakin absurd aku dibuat. Bingung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111418597579108847?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111418597579108847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111418597579108847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/absurditas.html' title='Absurditas'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111261304524816955</id><published>2005-04-04T04:10:00.000-07:00</published><updated>2005-04-04T04:10:45.250-07:00</updated><title type='text'>kukatakan ini: KEBOHONGAN</title><content type='html'>Kukatakan ini: KEBOHONGAN&lt;br /&gt;Empirisisme mejelaskan bahwa pikiran bersifat pasif dan pengalaman menuliskan impresi-impresi yang diterima oleh indra manusia. Dalam hubungan sosial, tiap-tiap orang, masing-masing memiliki pandangan yang berbeda satu sama lain. Karena akibat dari  indra mereka yang menerima kesan-kesan dari performance masing-masing orang.&lt;br /&gt;Akan tetapi, rasionalisme mengatakan sebaliknya, bahwa pikiran itu bersifat aktif dan pengalaman adalah hasil dari kerja keras pengungkapan pikiran. Dalam hubungan sosial, rasionalis memetakan dirinya di tengah masyarakat dan mengungkapkan idealisme yang muncul dari pikiran tersebut. Kecenderungan idealismenya pikiran ini, tentu tidak lepas dari ego si empunya pikiran. Subyektivitas sudah termaktub di dalamnya.&lt;br /&gt;Akan tetapi, kebijaksanaan menengahi keduanya, baik empirisisme maupun rasionalisme kini. Ketika keduanya dikompilasikan, empiris-rasionalis, manusia memahami segala sesuatu secara lebih mendalam. Unhgkapa kinestetik melalui rasa yang teraplikasikan pada pengakuan dilanjutkan dengan eksplorasi pemikiran, atau dibalik runutan prosesnya. Namun, kebanyakan orang melihat melalui pengalaman atau performance. Dan hal ini bisa dijadikan manfaat, jika dan bagi orang yang cerdas.&lt;br /&gt;Sebuah tampilan bisa dimanipulasi sesuai kehendak hati manusia. Untuk menimbulkan kesan baik atau buruk bagi orang sekelilingnya. Dengan syarat orang itu harus mau sedikit berpikir mengenai tampilan apa untuk menghasilkan kesan yang bagaimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Corak ragam aturan, ilmu pengetahuan, alam, atau bahkan manusia itu sendiri; membuat manusia mencari pegangan mengenai manusia sebagai individu sendiri. Individu mencari jati diri yang “hilang” atau tertutupi oleh berbagai corak ragam yang ada. Mencari makna manusia sebagai manusia, hidup sebagai hidup.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Materialisme mengajarkan bahwa Tuhan adalah suatu bentuk ketidakmampuan manusia dalam menjawab segala sesuatu yang terjadi pada diri manusia. Dalam artian bahwa Tuhan merupakan simbol yang dijadikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawabkan oleh manusia, dengan maksud untuk memberikan harapan bagi manusia itu sendiri. Sedangkan, Agama adalah suatu bentuk doktrin-isasi dogmatis menuju  kemajuan moralitas yang membuat manusia jadi terarah kepada konsep ketuhanan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111261304524816955?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261304524816955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261304524816955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/kukatakan-ini-kebohongan.html' title='kukatakan ini: KEBOHONGAN'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111261297763468948</id><published>2005-04-04T04:08:00.000-07:00</published><updated>2005-04-04T04:09:37.633-07:00</updated><title type='text'>mulung</title><content type='html'>Hingga terbit berit derit-derit&lt;br /&gt;terbesit kere-kere kerik&lt;br /&gt;korek –korek kerak tong&lt;br /&gt;dikit-dikit apulung prang&lt;br /&gt;bagai prangko terbangkan alayang&lt;br /&gt;ubah penyo jadi anyar&lt;br /&gt;puter-puter si belakang&lt;br /&gt;dapet sewot ajai lekang&lt;br /&gt;enak-enak  laku kenyang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111261297763468948?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261297763468948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261297763468948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/mulung.html' title='mulung'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111261291153015192</id><published>2005-04-04T04:07:00.000-07:00</published><updated>2005-04-04T04:08:31.530-07:00</updated><title type='text'>sambil lalu kubuat ini,...</title><content type='html'>Sambil lalu kubuat ini, juga dengan cuma-cuma. Akulah pengemis, seperti yang dikatakan Budi Darma dalam Solilokui. Aku sudah memiliki akal, jiwa yang selalu timbul tenggelam dalam lelap inertia. Juga masih dalam mengemis, aku masih meminta dan meminta untuk diberi. Mungkin watak inertiaku yang selalu membuatku menjadi pengemis.&lt;br /&gt;Kembali pada diriku yang menulis sambil lalu, hanya ingin agar tampak gagah, biar terlihat rajin menulis dan membacanya sewaktu-waktu. Lalu berbangga diri mengenai apa isi tulisan, bentuk tulisan ataupun huruf yang kugurat. Tampak aku ini seorang yang teramat narsistik yang bisanya hanya berbangga diri pada tulisan sendiri.&lt;br /&gt;Berputar lagi pada watak yang tidak mau atau angkuh diri terhadap membaca karya orang lain. Bahkan selain pengemis, aku pun hanya seorang plagiator yang bisanya meng-kutip, kutip, dan kutip.&lt;br /&gt;Seakan bagus, aku tetap menulis dalam keadaan narsistik, watak sombong inertiaku, juga masih pula pada takdirku untuk menjadi pengemis dan menjadi seorang plagiator—tanpa ada orisinalitas. Bagiku? Akankan aku menyesal?&lt;br /&gt;Tulisan ini sambil lalu, membacanya pun sambil lalu, juga memikirkannya pun. Fungsi reflektifnya pun, juga sambil lalu. Aku hidup, sambil lalu.&lt;br /&gt;Hanya sambil lalu, dasar watak inertia!!!&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111261291153015192?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261291153015192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261291153015192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/sambil-lalu-kubuat-ini.html' title='sambil lalu kubuat ini,...'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111261268435359667</id><published>2005-04-04T04:04:00.000-07:00</published><updated>2005-04-04T04:04:44.353-07:00</updated><title type='text'>biro</title><content type='html'>Biro-biro birokrasi&lt;br /&gt;Biro-biro aksi&lt;br /&gt;Biro-biro beraksi&lt;br /&gt;Biro-biro berak!&lt;br /&gt;Berak di biro-biro&lt;br /&gt;Biro-biro keras!&lt;br /&gt;Kerasi biro-biro&lt;br /&gt;Kerasi birokrasi!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lama tak berbincang, kali ini aku menangis&lt;br /&gt;menangisi perutku yang tak pernah muak&lt;br /&gt;dengan makanan basi&lt;br /&gt;benar! Aku tahu. Aku tah benar apa basi&lt;br /&gt;itu. Karenanya aku menangis, membuatku jatuh tersungkur&lt;br /&gt;mulutku, jelas, ia-lah pintu untuknya&lt;br /&gt;penuh terisi makanan-makanan basi&lt;br /&gt;aku takut mengakuinya, karena perutku&lt;br /&gt;semakin tambun.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pilihkan aku nisan terbaik&lt;br /&gt;dari pelepah mahoni hidup&lt;br /&gt;yang pernah kurasakan pahit bijinya&lt;br /&gt;agar aku terjaga dengan kuatnya jiwa&lt;br /&gt;Pastikan aku tenang berada&lt;br /&gt;di atas tanah yang tiadak perlu dibeli&lt;br /&gt;sebab ini tanah airku&lt;br /&gt;bukan tanah sembarang belian orang&lt;br /&gt;Makmurkan pusaraku dengan&lt;br /&gt;rumput nan hijau&lt;br /&gt;meskipun aku berkafankan darah&lt;br /&gt;merah mengental&lt;br /&gt;hingga aku tak perlu bangkit&lt;br /&gt;untuk bertanya:&lt;br /&gt;Apakah harus aku banghkit lagi&lt;br /&gt;untuk kobarkan semangat juang?&lt;br /&gt;Kemanakah kemakmuran bangsa ini?&lt;br /&gt;Kemanakan?!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111261268435359667?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261268435359667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261268435359667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/biro.html' title='biro'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111261264844340059</id><published>2005-04-04T04:03:00.000-07:00</published><updated>2005-04-04T04:04:08.443-07:00</updated><title type='text'>dik...</title><content type='html'>Kalau itu memang benar, Dik. Takkan kupersalahkan dirimu meski kebencianmu padaku begitu mendalam.&lt;br /&gt;Kututup semua wajah-wajah yang tinggi bagiku, yang rendah. Kupahami segala kebencian yang menyelimutimu. Tapi, aku tetap berharap Sang Pengatur Waktu akan memberikan jawaban terbaik bagimu, bagiku, bagi kita.&lt;br /&gt;Walau bukan saat ini. Kuyakin, sejalan bertambahnya usiamu, kedewasaan akan menjawab atau bahkan mungkin membuatmu paham tentang mengapa kau, mengapa aku, mengapa kita berdua, mengapa masa lalu, bagaimana kini, bagaimana masa depan, dan apa yang akan datang selanjutnya.&lt;br /&gt;Perjalanan kita terkadang hanya ada koma, hanya ada tanda tanya, atau hanya tanda seru yang tegak dan tak pernah diakhiri cukup dengan titik.&lt;br /&gt;Dik, lepas dari percaya atau tidaknya dirimu padaku. Kuberitahu kau, orang lain hanya bisa mengutip dan menguatak-atik menghubung-hubungkan. Tak peduli dampak atau rasa yang kita rasa. Saranku, Dik, akui rasa yang kita rasa, percaya pada dirimu sendiri bahwa kau mampu mengatasi. Kau sendiri, Dik.&lt;br /&gt;Aku pun begitu, sendiri. Namun, ku tak takluk. Karena sendiri mengajarkanku banyak hal. Yang kuyakin kau akan temui.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111261264844340059?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261264844340059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261264844340059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/dik.html' title='dik...'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111261256856995590</id><published>2005-04-04T04:02:00.000-07:00</published><updated>2005-04-04T04:02:48.570-07:00</updated><title type='text'>sebelum bel berbunyi</title><content type='html'>“Ping... pong!!” sahut Sugeng sebelum memijit bel. “Hus..., bukan ‘ping-pong’ bunyi bel ini, tapi ‘TING-TONG’!!!” Karmin, temannya menyela.&lt;br /&gt;“Tapi ceritamu tadi, dia seorang ‘pemain ping-pong’. Dan yang aneh bagiku, tidak selayaknya atlet lain, yang memiliki rumah biasa saja. Kok orang yang kita kunjungi ini bisa punya rumah gedong kayak gini, ya?” Sugeng penasaran.  &lt;br /&gt;“Ah, kau ini bisa saja. Memang, dia sama dengan atlet ping-pong lainnya. Hanya saja.... bola yang dimainkannya adalah ‘bola permasalahan.’ Dia pandai memantulkan bola itu, hingga mengecoh orang lain di hadapannya. Dia pemain yang sangat tangguh. Terkadang lawannya itu tidak berkutik dengan pukulan memantul yang mematikan. Sehingga sang lawan tidak bisa menebak satu langkah pun, maka jadilah dia pemenang pertandingan.”&lt;br /&gt;“Sang lawan seringkali hanya fokus pada ’bola permasalahan’ itu, hingga tak tahu siapa ’lawan’ sang lawan. Jadi, kini kau mengerti mengapa rajeg ’Sang Atlet’ ini begitu tinggi,“ jelas Karmin.&lt;br /&gt;“Oh... begitu ya. Kok bisa ya?? Lalu, kau kemari mau apa?“ tanya Sugeng.&lt;br /&gt;“Aku hanyalah pion pesuruh yang disuruh Komandanku agar menyampaikan pesan yang isinya pun berupa kata dan bukan surat.“&lt;br /&gt;“Lalu apa kata itu?“&lt;br /&gt;“’Siap’ dan ’Siap-siap.’ Hanya itu saja. Tanpa aku mengerti apa maksudnya.“&lt;br /&gt;“Hei, seharusnya ini menjadi pesan yang rahasia antara Komandanku, Aku, dan Si Pemilik rumah ini,“ sambung Karmin.  &lt;br /&gt;“Lalu, kenapa kau memberitahuku?“&lt;br /&gt;Sejenak, kesunyian mengisi Karmin.&lt;br /&gt;“Ah, mungkin selain pion. Aku juga orang, yang butuh teman. Tapi awas jika kau mendepakku dari belakang dengan menyebarkan ini.“&lt;br /&gt;“Jadi, kalau dari depan boleh ya?“ canda Sugeng.&lt;br /&gt;“Sebaiknya kau kubunuh sekarang juga.“&lt;br /&gt;“Wah... sebegitu seriuskah kau? Mung guyon kok,“ dengan logat Jawa yang agak kental.  &lt;br /&gt;“Kau ini manusia, yang bisa memilih kerjaan apa saja. Mengapa kau memilih ini?“ lanjut Sugeng.&lt;br /&gt;“Kan sudah kubilang tadi. Selain pion, aku ini cuma orang, yang terkadang diperlakukan tanpa sifat manusiawi dalam diriku. Sebab, aku dianggap tidak pernah berpikir oleh manusia-manusia yang atasan itu.“&lt;br /&gt;“Lalu?“ tanya Sugeng.&lt;br /&gt;“Lalu?! Pijit saja bel-nya agar tak terlalu lama beban ini berada di diriku.“ Karmin mengakhiri.&lt;br /&gt;“Ting... tong....!!“ bel itu pun berbunyi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111261256856995590?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261256856995590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261256856995590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/sebelum-bel-berbunyi.html' title='sebelum bel berbunyi'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111261243976299982</id><published>2005-04-04T04:00:00.000-07:00</published><updated>2005-04-04T04:00:39.763-07:00</updated><title type='text'>sebuah gaun untukmu</title><content type='html'>Kusematkan gaun ini untukmu, Sobat!&lt;br /&gt;gaun yang ku persembahkan dari&lt;br /&gt;setiap kebisuan yang mengalir&lt;br /&gt;tapi jangan kau seseakali merongrog&lt;br /&gt;kebisuan itu. Karena kaulah yang&lt;br /&gt;memberikanku, yang membuatku bisu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih, Sobat! Gaun yang ku&lt;br /&gt;curi dari setiap makna yang kau beri&lt;br /&gt;tlah melumpuhkanku dalam setiap&lt;br /&gt;langkahku yang ragu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu kau bingung atas pemberianku&lt;br /&gt;itu. Sebab dari sinilah semua berawal&lt;br /&gt;ke hari yang akan datang. Tapi tak&lt;br /&gt;tahu yang akan datang seperti apa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi maaf, Sobat! Aku hanya bisa&lt;br /&gt;memberimu gaun itu, tidak lebih&lt;br /&gt;jika dibandingkan dengan pemberianmu&lt;br /&gt;kepadaku.&lt;br /&gt;yang dengan pemberianmu itu, aku&lt;br /&gt;hidup bersamanya, dengan penuh&lt;br /&gt;kebisuan yang sepi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111261243976299982?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261243976299982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261243976299982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/sebuah-gaun-untukmu.html' title='sebuah gaun untukmu'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111261236924369692</id><published>2005-04-04T03:58:00.001-07:00</published><updated>2005-04-04T03:59:29.243-07:00</updated><title type='text'>sesak</title><content type='html'>Untukmu,&lt;br /&gt;aku hanya pria yang mempunyai sedikit impian untuk hidup tenang sebagaimana layaknya manusia yang manusiawi.&lt;br /&gt;Untukmu,&lt;br /&gt;beginilah adanya ego untuk aku bicara padamu tentang aku. biar lega diri ini, biar hampa dan hanya dirimu yang bisa mengisi. atau bahkan kehampaan itu adalah dirimu yang penuh sesak mengisiku. aku lepas segala tentangmu dariku hanya kepadamu agar engkau mengetahui sejauh-sedalam apa dirimu di diriku.&lt;br /&gt;Padamu,&lt;br /&gt;cukup aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cukup satu yang dapat kuberikan&lt;br /&gt;padamu&lt;br /&gt;sayang, dunia bukan milikku&lt;br /&gt;bahkan yang hendak kuberikan&lt;br /&gt;itu pun&lt;br /&gt;seluruhnya&lt;br /&gt;bukan milikku&lt;br /&gt;suatu saat Sang Pemilik akan&lt;br /&gt;mengambilnya darimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini kau kuberi&lt;br /&gt;aku.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;nyaris, terasa pun teriris&lt;br /&gt;desir darah lemah&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111261236924369692?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261236924369692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261236924369692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/sesak.html' title='sesak'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111261231986945631</id><published>2005-04-04T03:58:00.000-07:00</published><updated>2005-04-04T03:58:39.870-07:00</updated><title type='text'>sebuah lamunan...</title><content type='html'>Ah... santailah ragaku ini, dikelilingi bidadari kehidupan sunyi. Senyumku terhadapnya dibalas dengan wajah yang ayu. Manis, ketika aku memandangnya. Tak ingin ku berpikir selain dirinya. Pandanganku luas seisi dunia, tidak ada rasa kantuk karenanya. Aku terhanyut karenanya.&lt;br /&gt;Astaga! Terjagalah aku, dikelilingi algojo kehidupan riang. Kebengisanku tidak dihiraukannya. Aku tidak dapat melawannya. Karena itu mimikku berubah seketika. Aku menangis. Aku terdesak, terhimpit, hingga sempit ruangku bergerak.&lt;br /&gt;Wah... kaget aku melihat sobatku memperhatikanku di kehidupanku. Ia bertanya, “Mengapa?” Sedangkan aku balik bertanya, “Bagaimana?”&lt;br /&gt;Ia tersenyum. Lalu aku menjawab, “Khayalanku membuatku ingin hidup dalam mimpi. Sedangkan kehidupanku membuatku ingin berkhayal dalam hidup.”&lt;br /&gt;Ia pun tersenyum, lalu menjawab, “Kehidupankah khayalan itu ataukah kehidupan itu khayalan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebuah lamunan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111261231986945631?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261231986945631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261231986945631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/sebuah-lamunan.html' title='sebuah lamunan...'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111261227709789966</id><published>2005-04-04T03:57:00.000-07:00</published><updated>2005-04-04T03:57:57.096-07:00</updated><title type='text'>vandal</title><content type='html'>Izinkan aku bersandar pada diri&lt;br /&gt;yang kuyakin jiwanya ada&lt;br /&gt;meski yakin itu terkadang redup&lt;br /&gt;walau raga itu terkadang tanpa jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk aku&lt;br /&gt;Untuk diri yang selalu tanpa jejak&lt;br /&gt;sekalipun, tak pernah berpijak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya asap melayang-layang&lt;br /&gt;ingin menjadi awan&lt;br /&gt;tapi terkibas angin&lt;br /&gt;hilang tak nampak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski raga lain membuat ajeg pun tidak,&lt;br /&gt;ajeg pun tidak&lt;br /&gt;tak peduli&lt;br /&gt;biar hancur bersama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang vandal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;kita lihat nanti siapa&lt;br /&gt;—kau atau aku—&lt;br /&gt;yang akan mendahului pergi&lt;br /&gt;melanglang mengarungi dunia&lt;br /&gt;lihat saja ketika kau siap&lt;br /&gt;aku akan bangga&lt;br /&gt;tak menyesal meski harus&lt;br /&gt;meninggalkan&lt;br /&gt;tak peduli siapa yang menemani&lt;br /&gt;tapi jika memahami,&lt;br /&gt;aku sekedar memberi&lt;br /&gt;disertai pamrih pun tidak&lt;br /&gt;inilah yang bisa kau maknai dari aku, Kawan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat nanti, kita mesti bersua&lt;br /&gt;Berikan aku kebijaksanaan hidup&lt;br /&gt;Yang kau dapat&lt;br /&gt;Yang bukan dariku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maknai aku nanti, tidak sekarang&lt;br /&gt;Terima kasih, Kawan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111261227709789966?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261227709789966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261227709789966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/vandal.html' title='vandal'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111261220255176837</id><published>2005-04-04T03:55:00.000-07:00</published><updated>2005-04-04T03:56:42.553-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Padanya, entah apa yang harus kulakukan pada seorang yang kupikir aku jatuh hati padanya. Sebuah pikiran yang mungkin bisa disebut sebagai ‘Dilema Usaha Manusia Ir-Rational.’ Karena pikiran ini berusaha untuk mengendalikan rasa, ngakal-ngakalin rasa untuk tidak berperasaan—tak mempunyai rasa untuk jatuh hati.&lt;br /&gt;D, maafkan pikiranku yang menekan dan selama ini berhasil memanipulasi perasaan. Yang berarti aku berbohong pada diriku.&lt;br /&gt;Seperti sumbu di tiap pelita atau lilin, aku hanya menginginkan kondisi tetap ‘baik’ seperti adanya. Namun, tidak pada sumbu, dia berkorban membakar dirinya untuk kondisi itu. Kini, akulah yang berperan sebagai sumbu. Tak berdaya, terbakar oleh api rasa yang membuatku memiliki akibat lain dari yang kulakukan sebagai sumbu, yaitu perasaan bersalah pada diriku sendiri.&lt;br /&gt;Beginilah kiranya, menjadi makhluk bilingual—antara bahasa akal dan hati. Apalah manusia jika tanpa salah satu darinya? Dan apalah aku, yang mati hatinya dan kematian itu merembet kepada akalku?&lt;br /&gt;Aku bukan lagi jadi manusia, bahkan lebih rendah daripada tumbuhan yang hanya mempunyai hati dalam bentuk lain.&lt;br /&gt;Kini ke-bilingual-anku tidak menyuarakan putusan dan lebih cenderung untuk menghancurkan diriku.&lt;br /&gt;‘Dilema Usaha (...??) Ir-Rational’, kuralat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;len, ingatmu bolehkahku?&lt;br /&gt;ah... meski tak, aku ingat.&lt;br /&gt;lapaskanlah aku&lt;br /&gt;di penjaraku, cuma di hati&lt;br /&gt;meski kawanmu cemburu&lt;br /&gt;dia menyayangmu&lt;br /&gt;aku menyayangnya, juga kamu&lt;br /&gt;tak dua, aku satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Begitu nyata aku mengetahui, kau tak tahukah?&lt;br /&gt;Aku pun manusia, bahkan kebencian pun mengenalku. Ia memberitahuku bahwa kau membenci dirimu apa adanya. Hingga ku sembunyi. Sembunyi di balik keceriaan. Hanya..., keceriaankah yang kudapatkan ketika aku sembunyi?&lt;br /&gt;Tidak, tentu saja bukan. Ku beri tahu kau, kau lebih bebas, sebebas-bebasnya dirimu. Kau lebih mengerti tentang perasaanmu. Daripada aku, yang selalu berusaha untuk menipu, sembunyi. Tak patut kau membenci dirimu. Patutkah kau?&lt;br /&gt;Dan patutkah aku?&lt;br /&gt;Adakah keberanian dalam diriku untuk keluar adari persembunyianku dan berkata sejujur-jujurnya?&lt;br /&gt;Lalu kau membunuhku.&lt;br /&gt;Kausalitas ini sungguh rumit bagiku. Sungguh.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;kutahu bunga itu takkan layu&lt;br /&gt;hanya saja mungkin berdebu&lt;br /&gt;dan kutahu waktu itu pasti belalu&lt;br /&gt;tapi sang Waktu memaksaku mengenangmu&lt;br /&gt;lalu ketika aku membaca kehidupanku&lt;br /&gt;sekali lagi perhatianku terganggu&lt;br /&gt;oleh sebuah pita merah yang mengingatkanku&lt;br /&gt;padamu&lt;br /&gt;Salahkah aku pada saat-saat itu?&lt;br /&gt;untuk satu&lt;br /&gt;sempat kusisikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;tertawalah sesukamu&lt;br /&gt;wahai bajingan kecil&lt;br /&gt;biar lepas senang darimu&lt;br /&gt;biar, lepas senang darimu&lt;br /&gt;sembari tawamu menyeringai&lt;br /&gt;buat peka kuping&lt;br /&gt;buta sipitkan mata&lt;br /&gt;tertawalah....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111261220255176837?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261220255176837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261220255176837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/padanya-entah-apa-yang-harus-kulakukan.html' title=''/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111261210805423254</id><published>2005-04-04T03:54:00.000-07:00</published><updated>2005-04-04T03:55:08.056-07:00</updated><title type='text'>Arsy</title><content type='html'>Aku tak pernah tahu&lt;br /&gt;di mana Arsy&lt;br /&gt;di mana Surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku di dunia&lt;br /&gt;harapan-harapan itu membuat hidup jadi doa&lt;br /&gt;penguat diri&lt;br /&gt;dari mantra-mantra&lt;br /&gt;dunia nikmat&lt;br /&gt;untuk menuju berdiam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arsy&lt;br /&gt;Surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;tak sanggup ku menyebut nama Esa-Mu&lt;br /&gt;sujud, ruku’&lt;br /&gt;ingin kukembali&lt;br /&gt;tapi angkuhku berkata&lt;br /&gt;“Jangan! Tuanmu tak menginginkanmu jadi pengemis!”&lt;br /&gt;selalu kutunduk dalam rububiyah&lt;br /&gt;seperti iblis pengaju syarat&lt;br /&gt;atau Harut-Marut yang jadi pelajaran&lt;br /&gt;Ayat-ayat selalu kunikmati&lt;br /&gt;walau tak bersama yang sujud-ruku’&lt;br /&gt;yang dari mereka bisaku hanya tertawa dan menangis&lt;br /&gt;tertawa, kelucuan inkonsistensi&lt;br /&gt;menangis, merasakan kepedihan mengapa&lt;br /&gt;ku menanyakan pertanyaan Ibrahim&lt;br /&gt;seperti dalam kitab&lt;br /&gt;Latta-Uza mewujud, tidak lagi berwujud&lt;br /&gt;tapi jadi jiwa bagi tuan-tuan, sistem-sistem&lt;br /&gt;meski begitu tetap ku memohon ridlo-Mu&lt;br /&gt;memohon ampun tak henti-henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, sebut aku seorang Adam!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Candu itu benar adanya, Muthmainah terpanggil, merasakan&lt;br /&gt;kejanggalan kekosongan&lt;br /&gt;kekosongan yang hampa dalam sela-sela jari&lt;br /&gt;di tangan adan di kaki, juga pada ujung ubun-ubun&lt;br /&gt;dan telapak kaki&lt;br /&gt;Apa yang kurang? Apa yang kubutuhkan?&lt;br /&gt;Untuk mengatasi gelisah ini?&lt;br /&gt;Patok itu tercerabut dan perlu dipasang kembali&lt;br /&gt;Inikah dosa yang dijanjikan?&lt;br /&gt;timbul dari diri, ada pada diri, untuk diri sendiri&lt;br /&gt;sebuah ketentuan konsekuensi&lt;br /&gt;keduniawian atau kezuhudan?&lt;br /&gt;sama-sama berseri dan menggigil&lt;br /&gt;sebagai stimulan untuk bertindak&lt;br /&gt;Masih dosakah candu ini?&lt;br /&gt;udah hampir fitri&lt;br /&gt;di awal Desember 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;pendosa-pendosa menari&lt;br /&gt;menari-menari&lt;br /&gt;tari-tarian yang menarik&lt;br /&gt;seakan-akan tiada dosa&lt;br /&gt;sehingga tak ada pendosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Ya Allah, jika matiMu membuatku hidup, dulu&lt;br /&gt;maka jadikanlah kematianku kini&lt;br /&gt;menghidupkan aku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;khusus untukku saja, Ya Allah&lt;br /&gt;jadikan kematian itu sebanyak&lt;br /&gt;tiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;satu, sebelum aku berjasad&lt;br /&gt;dua, ketika aku berjasad&lt;br /&gt;tiga, ketika melepas jasad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;izinkan aku melakukan kematian kedua&lt;br /&gt;karena kedua kematian itu adalah kuasaMu&lt;br /&gt;begitu juga aku, hasil dari kuasaMu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tidak untuk nyelenéh&lt;br /&gt;karena begitu tunduk aku&lt;br /&gt;hanya nihilkan aku&lt;br /&gt;yang sudah semestinya nihil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, aku tiada&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;terbenamlah diri ini pada satu kebisuan sunyi&lt;br /&gt;dari sudut-sudut tenggorok mati&lt;br /&gt;tiada suara meskipun sekali&lt;br /&gt;ah...&lt;br /&gt;ku tahu mati sudah jadi diri&lt;br /&gt;sudah mengganti ruh dengan sebutan&lt;br /&gt;mati&lt;br /&gt;ah........&lt;br /&gt;kenapa mati juga yang memaksaku&lt;br /&gt;tau&lt;br /&gt;sedang dalam mati itu aku tiada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sudah damai, sudah...&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;Bersama segelas air putih&lt;br /&gt;Kuawali ini dengan baik&lt;br /&gt;Kujalani juga dengan baik&lt;br /&gt;Baik menurutku, benar menurutku&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sejuk, entah hormon apa yang membuatnya ada di dalam dada&lt;br /&gt;lebih sering ketika bersila menunduk&lt;br /&gt;menekan rasa di hadapan Sang Penguasa&lt;br /&gt;mungkin dari mata yang jatuh ke dada&lt;br /&gt;mungkin dari dada yang terlalu cepat mengakui rasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua permainan, judi probabilitas yang kulakukan&lt;br /&gt;aku menjadi terlarang, aku menjadi belang&lt;br /&gt;tapi tetap Sang Maha Pengasih memberi kesejukan dalam dada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejuk, masih bisa ku membual&lt;br /&gt;berkelakar di dalamnya&lt;br /&gt;aku takut merasa yang dirasa Muhammad saw&lt;br /&gt;hingga berselimut ia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketegarannya membuat ia minta diselimuti&lt;br /&gt;tapi aku akan mati, hingga tak ingin aku hidup&lt;br /&gt;aku masih kehidupan, meski tak sejati&lt;br /&gt;masih keruh, tak apa&lt;br /&gt;toh yang hak masih bisa menerimaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surga itu hak. Neraka juga&lt;br /&gt;menuju taman tak tergapai diri&lt;br /&gt;masuk duri enggan&lt;br /&gt;,mungkin tetap di jalan dan tetap terbagi dua,, raga ini&lt;br /&gt;ku mohon tidak dengan jiwaku&lt;br /&gt;tak ingin jiwaku terbelah, walau hanya gompal secuil&lt;br /&gt;tak.&lt;br /&gt;Cukup kafani aku dengan restu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111261210805423254?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261210805423254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261210805423254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/arsy.html' title='Arsy'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111261205325218159</id><published>2005-04-04T03:52:00.000-07:00</published><updated>2005-04-04T03:54:13.253-07:00</updated><title type='text'>Dalam ku berbisik,...</title><content type='html'>Dalam ku berbisik&lt;br /&gt;“Katakan! Allah itu satu”&lt;br /&gt;ku merasakan tak satu pun&lt;br /&gt;ingin aku labuhkan ragaku&lt;br /&gt;dan menggetirkan curahan&lt;br /&gt;mataku. Ku tak mampu&lt;br /&gt;aku diam, menggelengkan&lt;br /&gt;hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah jauh, langkahku takkan&lt;br /&gt;mencapainya, meski sedekat&lt;br /&gt;air mata sekalipun&lt;br /&gt;aku diam, bukan tak bergerak&lt;br /&gt;aku jauh, tidak menjauhi&lt;br /&gt;tapi tetap sosok itu diam&lt;br /&gt;hanya senyum bisu menyertai&lt;br /&gt;kedamaiannya&lt;br /&gt;yang kekal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lambat laun dahan itu&lt;br /&gt;tak kuat. Lalu daun itu pun&lt;br /&gt;terpaksa tersungkur untuk&lt;br /&gt;tanah yang membutuhkannya&lt;br /&gt;pada waktu yang tepat, semua&lt;br /&gt;mengalir dan akan menjadi&lt;br /&gt;ketetapan...!dan mungkin&lt;br /&gt;pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bantalku lepek, tembokku goyah&lt;br /&gt;kursiku rapuh, aku jatuh&lt;br /&gt;karenanya.&lt;br /&gt;hanya satu tonggak yang&lt;br /&gt;membuatku berdiri&lt;br /&gt;tapi tidak tegak hanya&lt;br /&gt;bertahan saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selimutku hilang, terbang&lt;br /&gt;pagi tadi. Ia kubanggakan&lt;br /&gt;karena memberikan kehangatan&lt;br /&gt;untukku&lt;br /&gt;namun, sekarang telah hilang&lt;br /&gt;terbawa angin lalu dan lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk&lt;br /&gt;ayahanda terbaik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;ketika selimut tak kunjung dibuka&lt;br /&gt;dibukakan&lt;br /&gt;kemudian ditutup&lt;br /&gt;menangis dan tertawa&lt;br /&gt;tiada beda&lt;br /&gt;tak ada guna&lt;br /&gt;semua diurug jadi satu&lt;br /&gt;jadi Satu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak perlu kumpul&lt;br /&gt;menyaksikan&lt;br /&gt;cukup sudah Satu&lt;br /&gt;jadi saksi&lt;br /&gt;jadi satu kebijakan&lt;br /&gt;doa kebajikan&lt;br /&gt;cukup satu tetap jadi Satu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Bapak, bisa kusebut berulang kali&lt;br /&gt;tapi tak satu kalipun wujudmu&lt;br /&gt;tampak di pelupuk mata&lt;br /&gt;hanya di benak tak pernah alpha hadir&lt;br /&gt;meski dada sakit menahan lelehan air mata&lt;br /&gt;dadaku takkan bertahan lama&lt;br /&gt;menahan rindu&lt;br /&gt;sesering kau hadir dalam mimpi subuhku&lt;br /&gt;aku lebih dari itu merindukanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lebih dari itu merindukanmu&lt;br /&gt;dalam bisik haru&lt;br /&gt;dalam tawa tangis&lt;br /&gt;dalam pikir bisu&lt;br /&gt;dalam kata-kata tanya:&lt;br /&gt;Mengapa? Bagaimana?&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Wafat, dan mungkin kau akan mengunjungiku&lt;br /&gt;dalam tanah yang masih basah&lt;br /&gt;saat kau bicara denganku&lt;br /&gt;tidak udara atau tanah, tapi&lt;br /&gt;malaikat yang menyampaikan pesanmu&lt;br /&gt;padaku.&lt;br /&gt;Aku, katamu, pesanmu&lt;br /&gt;malaikat pembawa pesan&lt;br /&gt;mungkin mengiba, melihat tangis rinduku&lt;br /&gt;padamu&lt;br /&gt;Wafat, taburi aku melati&lt;br /&gt;biar mewangi meski layu&lt;br /&gt;meski tak lagi basah, taburi aku melati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;meraupku, dalam air mata&lt;br /&gt;yang kukucurkan&lt;br /&gt;segar, membasahi&lt;br /&gt;tiap pori di muka&lt;br /&gt;seperti air garam&lt;br /&gt;tertetes di luka&lt;br /&gt;pedih terasa&lt;br /&gt;Duka ini terkubur&lt;br /&gt;mendalam&lt;br /&gt;WAFAT....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;tak sempat kukunjungi&lt;br /&gt;pusaramu. Maafkan aku&lt;br /&gt;aku tak kan bisa tahan&lt;br /&gt;menahan derasnya air mata&lt;br /&gt;maafkan aku&lt;br /&gt;aku putramu dan akan selalu begitu&lt;br /&gt;meski sedikit perjumpaan kita&lt;br /&gt;engkau selalu menjadi kerinduanku&lt;br /&gt;tak bisa kutunjukkan apa pun padamu&lt;br /&gt;walaupun kerinduan itu ataupun&lt;br /&gt;kebesaran hatiku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111261205325218159?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261205325218159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261205325218159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/dalam-ku-berbisik.html' title='Dalam ku berbisik,...'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111261195535927931</id><published>2005-04-04T03:51:00.000-07:00</published><updated>2005-04-04T03:52:35.360-07:00</updated><title type='text'>nanti</title><content type='html'>Menariku, Menanti!&lt;br /&gt;menjanjikan ‘nanti’ tak pernah datang pada seseorang yang besar keinginannya untuk menanti.&lt;br /&gt;Menariku, menangisku, Menanti!&lt;br /&gt;yang padahal aku harap ‘nanti’ jua yang dia lakukan—menantiku kembali.&lt;br /&gt;Amukku aku luapkan pada setitik tipis kecewa yang membuat ia meminta relaku untuk memaafkannya.&lt;br /&gt;Bukan maaf kuberi, tapi janji agar ‘nanti’ tak hadir.&lt;br /&gt;“Mungkin setelah ini tak ada kata: nanti.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111261195535927931?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261195535927931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261195535927931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/nanti.html' title='nanti'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111261190188305345</id><published>2005-04-04T03:50:00.000-07:00</published><updated>2005-04-04T03:51:41.883-07:00</updated><title type='text'>parfum</title><content type='html'>Datang kawan lamaku padaku. Kecewa, namanya. Kukira jauh dia berada, tapi ia menghampiriku lagi, kini. Rupanya masih lekat persis sama seperti pertama ia mengenalkan dirinya padaku. Hanya saja... wanginya yang beda, hingga tak tercium ia dari jauh.&lt;br /&gt;Ternyata ia mengganti parfum. Parfumnya yang dulu, bermerk Kepastian—yang sudah melekat baik di lendir hidungku dan di pikiranku. Kini ia beralih ke merk Percaya, apa... Kepercayaan ya?&lt;br /&gt;Ah... yang jelas parfumnya adalah yang berhubungan dengan kata Percaya. Itu, yang pasti!&lt;br /&gt;Heh! Masih kepastian juga yang memperdayaku!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111261190188305345?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261190188305345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261190188305345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/parfum.html' title='parfum'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111261182885036184</id><published>2005-04-04T03:48:00.000-07:00</published><updated>2005-04-04T03:50:28.850-07:00</updated><title type='text'>perihal diam</title><content type='html'>Sejenak, bolehkah aku bicara tentang Diam—yang selama ini menjadi alternatif terbaik dari pengetahuan?&lt;br /&gt;Sejenak, izinkanlah kawanku—Diam—bicara. Tentang apa pun yang menuntutnya agar menjadi dirinya. Akan menjadi cerita yang teramat panjang sekali, mungkin. Hingga yang memiliki pembicaraan menjadi Diam.&lt;br /&gt;Sejenak, kerangka-kerangka biarkan menjadi debu yang beterbaran di tiap lembar halaman buku, untuk mendengarkannya berbicara.&lt;br /&gt;Bicara, Diam! Bicara!!! Bicarakan tentang rasa yang selalu menuntutmu, selalu menjadi alasanmu untuk ada, yang menjadi reason d’etre bagimu. Bicara!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bercengkrama dengan kesendirian:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mencari kesombongan yang bersembunyi di balik dirimu. Sedangkan ia seenaknya mencelaku pada keramaian.”&lt;br /&gt;“Serahkanlah ia padaku, aku akan mendidiknya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah..., akhirnya kau keluar juga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;sepi-sepi&lt;br /&gt;sepi tah&lt;br /&gt;toh sepi&lt;br /&gt;sepi menyepi&lt;br /&gt;nyepi sendiri&lt;br /&gt;diem&lt;br /&gt;tak usah ganggu&lt;br /&gt;toh sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;bersandar, ku lelah&lt;br /&gt;tak dapat ditemui&lt;br /&gt;entah tak mungkin&lt;br /&gt;usia subuh ini masih terlampau sialu bagiku&lt;br /&gt;—yang masih kelam—&lt;br /&gt;mengingnkan senja&lt;br /&gt;setenang cumulus&lt;br /&gt;setebal selimut dari kabut&lt;br /&gt;ah...&lt;br /&gt;lama terdiam hingga mengental&lt;br /&gt;tak lagi kukenal&lt;br /&gt;Selamat tinggal!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111261182885036184?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261182885036184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261182885036184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/perihal-diam.html' title='perihal diam'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111261145749815000</id><published>2005-04-04T03:42:00.000-07:00</published><updated>2005-04-04T03:44:17.500-07:00</updated><title type='text'>“Gardenia ini untukmu, D.”</title><content type='html'>Seuntai Gardenia menjadi satu ungkapan yang tepat, mungkin, bagiku padamu. Terlepas suka atau tidak, aku berhenti-berserah pada serakan kenyataan. Dan keterwakilan perasaanku, kupercayakan pada sekuntum Gardenia. Selepas itu, aku pergi dan berhenti.&lt;br /&gt;Aku mencari ‘tak berbalas’. Sebab, mengerti adalah awal kesewenangan. Kesewenangan ‛berbalas’ adalah ketika satu sama lain berbicara tanpa peduli menyakiti diri masing-masing demi menjaga perasaan kekasihnya. Biarkan ‛tak berbalas’ menjadi pilihan yang kupilih. Agar aku selalu jujur pada diriku tentang dirimu: Bahwa aku menyukaimu.&lt;br /&gt;Sebutlah aku egois, jika kau menyukaiku. Aku tak ingin tahu perasaanmu padaku. Biarkan keasyikan ini merambah ke setiap organel dalam sel-sel tubuhku, agar menjadi endorfin murni dari hati. Keasyikan ketidaktahuan hanya Tuhan dan aku yang tahu.&lt;br /&gt;Sekuntum Gardenia jadikan keterwakilan perasaanku padamu, bukan aku secara utuh. Seiring aku dan waktu berjalan, semua semakin tua, hari ke hari. Lambat laun kuntum itu akan mati, kecuali engkau merawatnya hingga berpinak ia dan tetap, menirukan Edeilweiss.&lt;br /&gt;Timur dan barat akan menjadi patokan arahku melangkah, kini. Menjelajahi tundra atau selimut putih dingin agar terus endorfin ini bekerja menjadi penghangat tubuh, yang membeku. Aku akan kembali menemuimu.&lt;br /&gt;Namun kini, selamat tinggal!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111261145749815000?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261145749815000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261145749815000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/gardenia-ini-untukmu-d.html' title='“Gardenia ini untukmu, D.”'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111261132143930126</id><published>2005-04-04T03:41:00.000-07:00</published><updated>2005-04-04T03:42:01.440-07:00</updated><title type='text'>Kubunuh kau, hari!</title><content type='html'>Kubicara tentang nurani. Mengapa hari menanggapinya dengan kelu-kaku? Tak juga matari buat sejuk mata. Kiranya hari-hari sudah lumpuh, tak dapat ia mengantarku pada Esa-hidupnya jiwa.&lt;br /&gt;Hari menikam, menusuk. Buat darah jadi sebagian, lainnya muncrat. Luluh aku dalam peluh akibat matari. Hari tak mengajakku berduet, tapi berduel dengannya.&lt;br /&gt;Bunuh hari untukku, D! Bunuh hari!&lt;br /&gt;Tiap tetes keringat, berarti pengorbanan yang mengucur. Usaha yang dilakukan menjadi doa atas ketertindasan diri oleh hari.&lt;br /&gt;Malam pun diperlakukan layaknya siang.&lt;br /&gt;Bahkan, ketika diri menghendaki sepinya kesendirian sekalipun, dia menginginkan keramaian dalam bercengkrama dengan diri sendiri.&lt;br /&gt;Tak henti tetes itu mengalir, doa-doa terurai dari tiap otot syaraf tegang yang menekan dan alirkan keringat.&lt;br /&gt;Doa ini menyumpahi hari: Kubunuh kau, hari!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111261132143930126?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261132143930126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261132143930126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/kubunuh-kau-hari.html' title='Kubunuh kau, hari!'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111261081605157636</id><published>2005-04-04T03:30:00.000-07:00</published><updated>2005-04-04T03:33:36.053-07:00</updated><title type='text'>perihal kesah</title><content type='html'>Saya harap semua yang ada tak pernah ada. Tapi kenyataan tak pernah bisa lepas dari saya dan itu yang membuat saya mengerti sekaligus kecewa. Segalanya menjadi mudah ditebak.&lt;br /&gt;Dan karenanya, saya serba “memaklumi.” Memaklumi dalam tanda petik... yang berarti tidak sepenuhnya menerima.&lt;br /&gt;Motif apapun yang melatari saya ataupun Ria kini, hanya bisa dijadikan sandaran sementara dan bukan tempat rebahan abadi. Bukan kilo parameternya, walaupun rebahan abadi itu jauh... atau justru dekat.&lt;br /&gt;Jika maaf adalah kata yang mewakili kerelaan hati atas kesadaran diri yang dicerminkan dari hati. Maka kerelaan hati itu sudah lama terjajah oleh kecewa yang menjadi muka ganda dari kenyataan. Kerelaan itu sudah lama meraung-raung meminta pertolongan, tapi tak satupun berusaha untuk me-merdeka-kannya.&lt;br /&gt;Maka, tak perlu lagi saya katakan bahwa saya tidak percaya kepada keluhan diri.&lt;br /&gt;Secercah harapan pernah diusung, dengan senyum. Teruskan senyummu. Sedikitpun tak ada ruginya, senyummu tanpa aku.&lt;br /&gt;Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Keluh kesah tak lagi menghiburku. Hanya terkadang helaan napas bisa membuatku berpikir sejenak—menyadari apa yang sebenarnya terjadi.&lt;br /&gt;Hanya saja pikiran terlalu mendesak diri untuk melakukan yang tidak dapat raga lakukan.&lt;br /&gt;Lalu apakah cukup dengan keluh kesah, aku bisa mengungkapkannya? Sedangkan aku merasakan lebih dari sekedar kata-kata dalam keluhan!!!&lt;br /&gt;Dan, semoga tak lagi aku mengeluh!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111261081605157636?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261081605157636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111261081605157636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/04/perihal-kesah.html' title='perihal kesah'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111227468033987112</id><published>2005-03-31T05:06:00.000-08:00</published><updated>2005-03-31T05:11:20.343-08:00</updated><title type='text'>Sang Imaji : apakah itu aku ?</title><content type='html'>Ketika bifurkasi ku temui, haruskah ku memilih? Ku ingin kembali, tapi sayang jalan yang lalu telah tertutup rapat tak terbukakan. Sedangkan bifurkasi yang seharusnya ku pilih, bukanlah merupakan suatu jawaban yang baik untukku.  Alienasi, itulah konsekunsi yang kudapat dari keduanya. Haruskah ku mabuk pada dogma-dogma untuk berteduh dan mulai terasingkan oleh diri? Ataukah aku hidup pada diriku dan lalu pengasingan pun berlaku terhadapku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini diam tak mampu menolongku, dia pun ikut merenggut nyawaku, mengerogoti jiwaku. Sehingga aku berada terus di awang-awang tanpa menginjakkan telapak ini di bumi. Saat ini diam tak punya energi untuk memendam-meredakan semua. Diam bukanlah batu yang seharusnya aku lemparkan pada genangan air agar ketahuan riaknya. Bukan, kali ini bukan diam, batunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kumiliki parang untuk membuat jalan baru. Inilah kenyataan yang bukan alam ide, yang dengan mudah memikirkan parang maka parang itu pun ada dengan sendirinya. Parang?! Apakah harus aku buat sendiri jalan itu? Kemanakah manusia-manusia yang berjuta bermiliar itu, akukah yang ditolong ataukah aku yang dicaci? Akankah aku dibela ataukah aku yang jadi terdakwa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah aku pun manusia?yang adalah termasuk manusia yang bermiliar itu? Kawan, berada di manakah dirimu ketika aku berdiri di bifurkasi? Apakah kau penuntunku atau justru kaulah penuntutku? Kawan, adakah kau wahai Sang Imaji? Ataukah Kawan, kaulah Sang Imaji itu?yang hanya menjadi dan terjadi di alam ide, tak terwujud ada terukur.&lt;br /&gt;Kini aku yang menuntutmu untuk membumi, karena aku mewakili makhluk-makhluk yang adalah manusia yang kini sedang berada dalam ketiadaan keberadaan kesadaran, bingung atas adanya persimpangan. Apakah jawabanmu wahai Sang Imaji? Wahai Sang Penganut ke-Ideal-an, apakah jawabanmu atas ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan kau jadikan apa kegalauanku ini? apa yang menjadi jawabanmu akan menjadikan aku sebagai apa? Sebagai manusia baik-baikkah yang mematikan diri, seperti layaknya aku ini sebuah lilin? Itukah yang ideal wahai Kawan Sang Imaji? Adilkah itu Kawan? Engkau hidup seperti itukah, layaknya Socrates atau Yesus yang didakwa demi keteguha bakti Idealitas? Itukah yang kau lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ataukah aku menjadi dewan hakim yang mendakwa Socrates ataupun Yesus? Meski dada ini terasa tersayat-sayat, hancur semua rasa, tak terasa bahwa aku ini ada mengada berada. Ataukah kau menghendaki aku untuk meninggalkan keduanya, seperti aku ini seorang astronot yang keluar dari bumi dan lalu terasing dalam luas indahnya angkasa mayapada, aku tak lagi membumi menginjakkan telapak kaki ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah jawabanmu, Kawan Sang Imaji? Apa kau mempunyainya? Atau kau meninggalkanku membiarkan aku berpikir sendiri tanpa dirimu, yang Sang Imaji Penganut ke-Ideal-an? Ataukah jawaban itu begitu tabu untuk menjadi jawaban?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan Sang Imaji, aku menuntut jawaban darimu, karena kaulah pencipta semua budaya meskipun terkadang tanpa peradaban. Wahai Kawan Sang Imaji di manakah dirimu ataukah kau mencari-cari di manakah aku berada? Mustahil jika kau menanyakan aku berada di mana! Kawan Sang Imaji, aku berada ada karena dirimu kaulah pembentukku, namun kini engkau di mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menantikan jawabanmu, Wahai Kawan Sang Imaji?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111227468033987112?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111227468033987112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111227468033987112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/03/sang-imaji-apakah-itu-aku_31.html' title='Sang Imaji : apakah itu aku ?'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111227420744333410</id><published>2005-03-31T05:00:00.000-08:00</published><updated>2005-03-31T05:03:27.446-08:00</updated><title type='text'>singgahlah</title><content type='html'>Datanglah sesukamu, kota ini selalu merindukan dan membuka pintunya untuk seorang kekasih salah satu penghuninya. Tapi apa yang bisa kusuguhkan padamu, wahai kekasih. Tak ada satu pun yang dapat kusajikan untukmu. Hartaku cuma aku seorang, tak lebih. Ku sarankan, engganlah kemari jika kau tidak menginginkannya, harta itu satu. Ia akan tertimbun zaman, jika kau tak pernah mengeduk-memolesnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirlah, layaknya kataku ini mantra untuk membuatmu hadir. Entah apa yang mesti ku persiapkan, sebutlah satu. Akan ku ubah diriku sebagai dukun pengada. Menjadikan ada segala yang tiada, meminjam wujud ada dari Tuhan, yang Maha Ada. Tuhan pun mungkin tak berkeberatan, jika melihat ciptaan-Nya penuh kasih-sayang sebagaimana kehendak-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persiapkanlah segala keluh-kesahmu, kini. Untukku seorang. Singkirkan keraguan, luapkan segala, saat pertemuan nanti. Kan ku dengar ceritamu, apa pun itu. Isilah kekosongan Sang Perindu ini, yang rasa takut pun gentar terhadapnya. Tanamkan kerinduanku ini saat perjalanan nanti. Agar selalu menyertaimu, memberi petunjuk dalam jiwa, di mana aku berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawan segala kendala, untukku, Kasih. Kita akan segera berjumpa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111227420744333410?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111227420744333410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111227420744333410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/03/singgahlah.html' title='singgahlah'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-11208622.post-111227357757153462</id><published>2005-03-31T04:48:00.000-08:00</published><updated>2005-03-31T04:52:57.573-08:00</updated><title type='text'>diam</title><content type='html'>Diam bisa menjelaskan padaku perihal rasa. Dalam diam tidaklah mengartikan bahwa aku tidak bergerak. Aku diam , tawa mereka diam pula. Diam mengajari aku rasa dengan merasai yang jadi rasa bagi mereka. itulah yang membuat mereka diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin diam menghampirimu juga. dan ia mengajarimu apa yang ia ajarkan padaku.Aku bergerak, tak satu guru kutemui. rasa pun guruku. sakit, dengki, kecewa pernah kualami. hal itu yang membuatku membantah guru diamku. aku menjadi angkuh, tapi aku tak takut. aku menjadi benci , tapi aku tak mencaci. karena aku mengerti perihal rasa melalui diam. pekerti yang kumengerti lewat indera penghasil budi daya, mengajakan aku untuk menghargai tiap-tiap dari mereka yang ingin pula mengerti. karena itu aku bicara untuk berdiam. Berdiam dalam diri, yang ku tahu adalah seonggok makhluk yang diciptakan. tidak lain tidak bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan, guru-guru itu mengajarkanmu jawaban yang berbeda satu sama lain. tetapkan satu untuk dirimu, meski tidak dari guru-guru itu. tidak lain tidak bukan dari seonggok makhluk yang diciptakan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/11208622-111227357757153462?l=madhusudanah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111227357757153462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/11208622/posts/default/111227357757153462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://madhusudanah.blogspot.com/2005/03/diam.html' title='diam'/><author><name>yosie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04598227051933018003</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
